BUDI SETIYO PRABOWO

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

BEBERAPA KONSEP TENTANG FILSAFAT ILMU

 

  1. Perbedaan Pengetahuan Biasa dan Pengetahuan Ilmu
No Pengetahuan Biasa[1] Pengetahuan Ilmu[2]
1. Hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau perbuatan manusia untuk memahami obyek tertentu,. Aktivitas manusia untuk memperoleh pengetahuan, lebih lengkap dan cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan nanti, untuk beradaptasi, mengubah lingkungan dan sifat-sifatnya.
2. Berwujud barang fisik, pemahaman Menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu
3. Melalui cara persepsi lewat indra, akal atau masalah kejiwaan Melalui metode khusus yang selanjutnya disebutkan sebagai metode ilmiah
4. Memiliki obyek tertentu, runtut, memiliki metode yang umum Sesuatu cabang ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisis material (systematic knowledge of the physical or material world).

 

  1. Karakteristik Pengetahuan filsafat, pengetahuan ilmu, dan pengetahuan tasawuf/mistik dari segi ontology, epistemology dan (3) aksiologi
No Karakteristik Pengetahuan Filsafat Pengetahuan Ilmu Pengetahuan Tasawuf
1 Ontologi Hakikat Pengetahuan

Pengetahuan yang diperoleh dari proses berfikir, mempunyai ciri khas dan output yang dihasilkan berupa pemikiran yang logis tetapi tidak empiris[3]

 

Struktur Pengetahuan

Struktur pada pengetahuan filsafat meliputi metafisika, asumsi, dan peluang.

Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1) Ontologi, dan 2) Metafisika khusus. Ontologi mempersoalkan tentang esensi dari yang ada, hakikat adanya dari segala sesuatu wujud yang ada, “ontology is the theory of being qua being”. Sedangkan Metafisika Khusus, mempersoalkan theologi, kosmologi, dan antropologi.[4]

 

 

 

 

Hakikat Pengetahuan

Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain, asumsi sains adalah tidak ada suatu kejadian tanpa sebab dan dirumuskan dengan ungkapan post hoc/ ergo propter hoc ini tentu disebabkan oleh ini. Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sains berisi tentang teori, teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat. Dan sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, sains hanya memberikan nilai benar atau salah.

Struktur Pengetahuan

Secara garis besar struktur pengetahuan ilmu dibagi menjadi Sains Alam dan Sains sosial dengan cabang-cabang kekhasan masing-masing.

Karakteristik

Beberapa ciri umum sains, antara lain : 1). Hasil sains bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama, artinya hasil sains yang lalu dapat digunakan untuk penyelidikan hal yang baru, dan tidak memonopoli. Setiap orang dapat memanfaatkan hasil penemuan orang lain. 2). Hasil sains kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia. 3). Sains bersifat objektif ,artinya prosedur kerja atau cara penggunaan metode sains tidak tergantung kepada siapa yang menggunakan, tidak tergantung pada pemahaman secara pribadi.

Hakikat Pengetahuan

Merupakan pengetahuan yang tidak dapat di pahami rasio, maksudnya, hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat di pahami rasio. Sering disebut dengan pengetahuan metafisika[5]

 

Struktur Pengetahuan

Pengetahuan tasawuf merupakan salah satu bagian mistik biasa, akan tetapi jika ditinjau secara filsafat, maka terdapat magis putih dan magis hitam. Mistik putih selalu dekat dan berhubungan serta bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Ilahi sangat menentukan. Sedangkan mistik hitam selalu dekat, bersandar, dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat.[6]

 

2 Epistimologi Obyek Pengetahuan

Pengetahuan Ilmiah merupakan segenap hasil pemahaman manusia yang diperoleh dengan mengunakan metode ilmiah.dan pengetahuan non ilmiah merupakan Segenap hasil pemahaman manusia atas atau mengenai obyek tertentu yang terdapat pada kehidupan sehari-hari[7]

 

Proses Pengetahuan

Pengalaman Indera, Nalar, Otoritas, Intuisi, Wahyu, dan Keyakinan.

 

Ukuran kebenaran

Pengetahuan flsafat adalah pengetahuan yang logis tetapi tidak empiris. Sehingga ukuran keberan filsafat adalah logis tidaknya suatu pengetahuan, jika logis maka benar akan tetapi jika tidak logis maka salah.[8]

 

Obyek Pengetahuan

Objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusi. Yang dimaksud pengalaman di sini ialah pengalaman indera. Bukti empiris ini di perlukan untuk menguji bukti rsaional yang telah di rumuskan dalam hipotesis. Objek-objek yang dapat diteliti sains seperti alam, tumbuhan, hewan, dan manusia serta kejadian di sekitar alam, tumbuhan, hewan, dan manusia. Dari penelitian itulah muncul teori-teori sains.[9]

Proses Pengetahuan Menggunakan paham Humanisme, Rasionalisme, Empirisme, dan Postivisme.

Ukuran kebenaran

Logis dan empiris

Menggunakan teori korespondensi, koherensi, dan pragmatik.[10]

Obyek Pengetahuan

Obyek pengetahuan tasawuf atau mistik adalah obyek yang abstrak supra rasional seperti alam gaib termasuk Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin dan lainnya. Obyek yang tidak dapat dipahami oleh rasio juga dapat diketahui dengan pengetahuan mistik, seperti obyek supra natural (supra rasional) berupa kekebalan, debus, pellet, dan santet.[11]

 

Proses Pengetahuan

Cara memperoleh pengetahuan mistik dapat menggunakan beberapa cara. Diantaranya adalah melalui moral, intuisi, atau dengan menghilangkan unsur-unsur kebutuhan yang bersifat jasmaniah serta memperbesar unsur rohaniah.

 

Ukuran kebenaran

Kebenaran pengetahuan mistik diukur dengan berbagai macam ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari Tuhan, maka ukuran kebenarannya ialah teks Tuhan atau Al-Qur’an (dalam agama Islam). Tatkala Tuhan didalam Al-Qur’an menyatakan bahwa surga neraka itu ada, maka ukuran kebenarannya adalah teks itu sendiri. Ukuran kebenaran yang kedua adalah kepercayaan, yang sesuatu dianggap benar jika percaya. Jika manusia percaya bahwa jin dapat disuruh untuk melakukan sesuatu pekerjaan, maka kepercayaan itulah yang menjadi bukti kebenaran. Dan ukuran kebenaran yang terakhir adalah bukti empiris. Kebal adalah sejenis pengetahuan mistik. Kebenarannya dapat diukur dengan bukti empiris ketika seseorang memperlihatkan di hadapan orang lainnya bahwa ia tidak mempan ditusuk jarum.[12]

3 Aksiologi Kegunaan Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan Filsafat memiliki kegunaan diantaranya adalah sebagai kumpulan teori filsafat contohnya adalah filsafat Marxisme (komunisme), Filsafat Mulla Shadra, dan lain sebagainya.Sebagai metode pemecahan masalah filsafat digunakan sebagai suatu cara atau model pemecahan masalah secara mendalam dan universal, filsafat selalu mencari sebab dan mencari dari sudut pandang yang seluas-luasnya, dan sebagai pandangan hidup (philosophy of life) akan dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang dan tindakannya dalam kegiatan keseharian.[13]

 

 

 

Cara Menyelesaikan Masalah

Filsafat sesuai dengan sifatnya menyelesaikan masalah secara mendalam, dan universal. Penyelesaian filsafat secara mendalam artinya ingin mencari akar masalah secara mendalam. Universal artinya filsafat ingin melihat masalah dalam hubungannya seluas-luasnya.

Kegunaan Pengetahuan

Pengetahuan Ilmu berguna sebagai alat eksplanasi[14] teori-teori tertentu menerangkan (mengeksplanasikan) sebuah gejala sosial tertentu yang terjadi di masyarakat. Teori digunakan sebagai alat untuk meramalkan atau membuat sebuah prediksi perencanaan. Teori sebagai sarana alat untuk memecahkan suatu masalah.

 

Cara Menyelesaikan Masalah

Identifikasi masalah, mencari teori tentang masalah tersebut, kembali membaca literatur atau teori lagi.

 

Kegunaan Pengetahuan

Kegunaan pengetahuan mistik sangat subyektif karena tergantuk setiap individu dalam memandang dan menggunakannya. Kegunaan berbagai pengetahuan mistik saat ini tergeser oleh produk modern. Mistik yang dapat membawa pada ketenangan batin merupakan bentuk pengetahuan mistik yang sampai sekarang masih digunakan.[15]

 

Cara Menyelesaikan Masalah

Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses indrawi dan tidak melalui proses rasio. Bagi para ahli hikmat dapat diselesaikan dengan meningkatkan bentuk ibadah dan kualitas ibadah mereka kepada Tuhan.[16] Sedangkan bagi mistik hitam dapat melalui perantara atau bantuan jin untuk menyelesaikan masalah mereka.[17]

 

  1. Karakteristik ajaran filsafat rasionalisme, empirisme, kritisisme, positivisme dan falsifikasionisme dari segi epistemologinya (yakni sumber pengetahuan, metode memperoleh pengetahuan dan ukuran kebenaran pengetahuan
No Karakteristik Rasionalisme Empirisme Kritisisme Positivisme Falsifikasio-

nisme

1 Sumber Pengetahuan Pengetahuan yang dapat diandalkan bukanlah yang diturunkan dari dunia pengalaman, melainkan dari dunia pikiran, pikiran tidak sinonim dengan data. Pengetahuan yang benar sudah ada bersama kita dalam bentuk ide-ide, yang tidak kita peroleh (pelajari) melainkan merupakan bawaan.[18] Pengalaman, artinya adalah pengalaman lahir yang menyangkut persoalan dunia dan pengalaman batin yang menyangkut pribadi manusia. Manusia tidak mempunyai ide-ide bawaan atau innate ideas. Manusia merupakan kertas putih yang belum terisi apa-apa-apa sedangkan pengalaman yang kemudian mengisinya[19] Menyelidiki struktur-struktur subjek untuk

mengetahui benda-benda sebagai objek. Lahirnya pengetahuan karena manusia dengan akal aktifnya mengontruksi gejala-gejala yang dapat ia tangkap.

Akal tidak boleh bertindak seperti seorang mahasiswa yang cuma puas dengan mendengarkan keterangan-keterangan yang telah dipilihkan oleh dosennya, tapi hendaknya ia bertindak seperti hakim yang bertugas menyelidiki   perkara dan memaksa para saksi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri telah rumuskan dan persiapkan sebelumnya.[20]

Realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Upaya penelitian, dalam hal ini adalah untuk mengungkapkan kebenaran realitas yang ada, dan bagaimana realitas tersebut senyatanya berjalan Pengetahuan didapatkan menggunakan pengamatan dan percobaan (observation and experiment)

Penggunaan akal dan pengalaman langsung menjadi dasar utama ajaran filsafat ini.[21]

2 Metode Metode intuisi rasional merupakan sarana ntuk mengetahui kebenaran pada dunia nyata.[22] Menggunakan metode eksperimen dalam penyelidikan dan penelitian. Petunjuk yang diberikan diantaranya adalah 1) idola tribus (menarik kesimpulan secara terburu-buru). 2) idola specus menarik kesimpulan sesuai dengan selera. 3) idola fori yaitu menarik kesimpulan berdasarkan orang banyak. 4) idola Theatri menarik kesimpulan berdasar pendapat ilmuan sebenarnya.[23] Menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Langkah ini dimulai dengan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan[24] Informasi kebenaran itu ditanyakan oleh penelitian kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini, maka seorang pencari kebenaran (penelitian) harus menanyakan langsung kepada objek yang diteliti, dan objek dapat memberikan jawaban langsung kepada penelitian yang bersangkutan. Hubungan epistemologi ini, harus menempatkan si peneliti di belakang layar untuk mengobservasi hakekat realitas apa adanya untuk menjaga objektifitas temuan. Karena itu secara metodologis, seorang penelitian menggunakan metodologi eksperimen-empirik untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Mereka mencari ketepatan yang tinggi, pengukuran yang akurat dan penelitian objektif, juga mereka menguji hipotesis dengan jalan melakukan analisis terhadap bilangan-bilangan yang berasal dari pengukuran.[25] Ilmu pengetahuan modern mendasarkan metodologi pada verifikatif induktif. Akan tetapi pada ajaran ini verifikatif indukti tidak semata-mata dapat menyatakan kebenaran hukum-hukum universal. Kebenaran hukum ilmiah bukan hasil pembenaran dari sederetan fakta yang terkumpul, melainkan hasil uji dengan berbagai percobaan yang sistematis untuk menyangkal-nya. Solusi yang ditawarkan adalah berupa metode verifikatif induktif dengan metode falsifikasi deduktif yang membawa implikasi lahirnya teori pertumbuhan pengetahuan ilmiah dan emistimologi revoluisoner.[26]
3 Ukuran Kebenaran Kebenaran atau kesalahan terletak di dalam ide dan bukan pada benda-benda atau pengalaman yang dilalui Kebenaran terhadap obyek didasarkan pada pengalaman manusia. Pernyataan tetang ada atau tidaknya sesuatu haruslah memenuhi syarat pengujian publik. Kemudian terdapat prinsip keteraturan dan keserupaan.[27] Menyelidiki manakah syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya manusia bisa berpikir (teori) dan atau bertindak (praktis). Logika formal sebenarnya juga bersifat a priori, namun berbeda dengan metafisika, logika formal tidak menentukan objek-objek pengalaman, hal yang justru dilakukan oleh metafisika Kant. Lewat tangan Kant inilah, metafisika menemukan paradigmanya yang baru, yakni merupakan mode of thought.[28] Dapat di/ter-amati (

observable), dapat di/ter-ulang (repeatable), dapat di/ter-ukur

(measurable), dapat di/ter-uji (testable), dan dapat di/ter-ramalkan (predictable).

Syarat tersebut pada bagian 1 s/d 3 merupakan syarat-syarat yang diberlakukan

atas objek ilmu pengetahuan, sedangkan dua syarat terakhir diberlakuakn atas

proporsi-proporsi ilmiah karena syarat-syarat itulah, maka paradigma positivisme

ini sangat bersifat

behavioral, operasional dan kuantitatif.

Pengalaman dan pengamatan digunakan sebagai sarana untuk melakukan kritik terhadap suatu teori. Pengalaman dan pengamatan bukan merupkan sarana untuk meneguhkan teori seperti dalam tradisi pemikiran induktifitas dan verifikasionis-tis, akan tetapi untuk mengadakan penyangkalan terhadap teori[29] Peran observasi dan percobaan hanya digunakan sebagai alat argumentasi kritis.[30]

 

 

 

 

 

  1. Teori tentang kebenaran yakni correspondensi, koherensi, pragmatis dan religius
  2. Correspondensi

Merupakan persesuaian antara fakta dan situasi nyata. Kebenaran merupakan persesuaian antara pernyataan dalam pikiran dengan situasi lingkungannya. Jika ide atau kesan yang diyati subyek (seseorang) sesuai dengan kenyataan, realita obyek, maka sesuatu itu benar. Teori ini didasarkan pada pandangan ontology bahwa di dalam semesta ini ada dunia obyektif yang independent, yang tidak bergantung kepada subyek yang menyandarinya. Masalah kebenaran ditentukan oleh faktor eksternal dan bukan faktor internal, kebenaran bersifat obyektif. Kebenaran merupakan kesan subyek terhadap sebuah realita, jika keduanya terdapat persesuaian maka itu benar.[31]

Contoh jika kita menyakini di dalam pikiran Ibu kota Indonesia adalah Jakarta, maka itu benar secara correspondensi, akan tetapi jika dalam pikiran kita menyakini medan sebagai ibu kota Indonesia maka itu salah.

 

  1. Koherensi

Suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut dalam keadaan saling berhubungan dengan proposisi-proposisi lain yang benar, atau jika makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita. Teori kebenaran koherensi ini biasa disebut juga dengan teori konsitensi. Pengertian dari teori kebenaran koherensi ini adalah teori kebenaran yang mendasarkan suatu kebenaran pada adanya kesesuaian suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui kebenarannya.[32]

Teori Konsistensi mencari kebenaran berdasarkan konsitensinya (ketetapan/ keajegan) antara ide-ide atau kesan-kesan tentang suatu realita. Berdasarkan adanya konsistensi antara idea atau kesan seseorang dengan orang lain untuk suatu obyek yang sama, maka ini dipandang sebagai benar. Sesuatu dinyatakan sebagai benar sejauh adanya konsistensi antara kebenaran yang ditangkap subyek tentang suatu realita (obyek yang sama).[33]

Contoh ide (1) bahwa setiap manusia pasti mati. Ide (2) Suliyemadalah manusia. Ide (3) maka Suliyem pasti mati, jadi ide pertama, kedua, dan ketiga konsisteb benarnya.[34]

 

  1. Pragmatis

Sesuatu dikatakan benar hanya jika mereka berguna, mampu memecahkan masalah yang ada secara praktis. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia di dalam keseimbangan, dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Suatu teori, pendapat, atau hipotesis dikatakan benar apabila menghasilkan jalan keluar dalam praktek, atau membuahkan hasil-hasil yang memuaskan dalam kehidupan praktis. Pragmatisme telah menekankan pada kegunaan suatu ide di dalam praktek, jika berguna maka itu benar, sebaliknya jika tidak berguna makan tidak benar. Dengan demikian kebenaran amatlah relative.[35]

Contoh misalnya kita menjalankan ibadah sholat dalam rangka mendapatkan ketenangan jiwa pada aktifitas kehidupan. Akan tetapi ketika tidak mendapatkan hal tersebut, kemudian kita merasa meragukan terhadap sholat yang sudah dilakukan apakah sesuai dengan tuntunan atau belum. Contoh lain misalnya seorang anggota DPR dianggap memenuhi aspirasi rakyat ketika dapat mengakomodasi semua apa yang menjadi kepentingan rakyatnya.

 

  1. Religius

Merupakam teori kebenaran yang absolut, universal, dan mutlak. Manusia bukanlah semata-mata makhluk jasmaniah yang ditentukan oleh hukum alam (kausalitas) dan biologis. Manusia adalah makhluk rohaniah dan jasmaniah. Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasio dan kemauan individu. Kebenaran pastilah mengatasi rasio dan kemauan individu. Kebenaran bersifat obyektif, universal, berlaku bag seluruh umat manusia. Bahkan kebenaran itu bersifat mutlak, berlaku unruk sepanjang sejarah manusia. Kebenaran berasal dari luar diri manusia, yaitu berasal dari Sang Pencipta. Karena kebenaran yang diciptakan oleh manusia selalu dalam perspektif keilmuan, ruang dan waktu dan tidak lepas dari kepentingan, sehingga menjadi kebenaran yang relatif. Sedangkan kebenaran dari Tuhan, tidak ada unsur kepentingan.[36]

Contoh ketetapan tentang adanya surge dan negara yang telah menjadi jaminan dari Tuhan sebagai balasan bagi aktifitas kehidupan umat manusia.

 

  1. Keuntungan dan kerugian value free dan value bound dalam pengembangan ilmu pengetahuan
No Aspek Value Free[37] Value Bound
1 Kelebihan Perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih cepat terjadi Perkembangan lmu pengetahuan akans sesuai dengan segmen atau nilai-nilai dasar yang mengikat, contohnya ilmu-ilmu alam yang bekerja secara analitis empiris, teori kritis, maupun memiliki pola lainnya.
    Tidak ada hambatan dalam melakukan penelitian Penelitian menjadi lebih spesifik sesuai dengan kondisi yang ada.
    Mendorong terjadinya otonomi ilmu pengetahuan, kebebasan menyangkut kemungkinan untuk menentukan diri sendiri Ilmu cenderung memiliki kaitan langsung dengan induk dalam pengembangan pengetahuan. Menggunakan penafsiran atau tata cara tertentu sesuai dengan obyek pengetahuan.
2. Kelemahan Menambah masalah pengetahuan bagi manusia karena tidak terikat oleh nilai-nilai yang ada. Kecenderungan akan menutup adanya pengembangan keilmuan secara lebih lanjut diluar lingkup dasar dalam keilmuan. Terbatas sesuai subyek pengetahuan tertentu.

 

 

  1. Langkah-langkah dalam metode ilmiah dan beri contohnya
  2. Sadar akan adanya masalah dan merumuskan masalah

Tahap permulaan metode keilmuan yang menganggap dunia sebagai suatu kumpulan obyek dan kejadian yang dapat diamati secara empiris dan kepada dunia itu kemudian kita terapkan suatu peraturan atau struktur hubungan, dimana suatu lingkup yang terbatas dari fakta-fakta yang tertangkap indera dapat diberikan arti[38]

Contoh : permasalahan mutu pendidikan di level sekolah yang saat ini masih belum sesuai, khususnya pada kompetensi profesional guru dalam memberikan materi pelajaran. Apakah sudah terdapat kesesuaian antara tunjangan profesionalisme yang diberikan kepada guru dengan pengembangan profesi berupa peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.

  1. Pengamatan dan pengumpulan data yang relevan

Merupakan sarana untuk mengumpulkan berbagai fakta yang terjadi di lapangan. Pengamatan yang teliti memungkinkan terdapatnya berbagai alat, yang dibuat oleh manusia dengan penuh akal, memberikan dukungan yang dramatis terhadap konsep keilmuan sebagai suatu prosedur yang pada dasarnya adalah empiris dan induktif. Tumpuan terhadap persepsi indera secara langsung atau tidak langsung. Dan keharusan untuk melakukan pengamatan secara teliti, seakan menyita perhatian terhadap segi empiris dari penyelidikan suatu keilmuan.[39]

Contoh : proses pengumpulan data atau fakta yang relevan digunakan melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik dengan menggunakan wawancara yang dikonfirmasi oleh observasi dan pencermatan dokumen (studi dokumentasi), kemudian triangulasi sumber dengan memadukan sumber-sumber dari berbagai komponen, seperti guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, dan siswa.

  1. Penyusunan dan klasifikasi data

Langkah ini dilakukan dengan menyusun fakta dalam kelompok, jenis, dan kelas tertentu. Pada semua cabang ilmu, usaha untuk mengidentifikasikan, menganalisis, membandingkan, dan membedakan fakta-fakta yang relevan tergantung kepada adanya sistem klasifikasi yang disebut taxonomi.[40]

Contoh : Data diklasifikasikan sesuai dengan hasil pengumpulan data, berupa data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, maupun pencermatan terhadap dokumen. Serta hasil dari berbagai sumber kemudian diklasifikasikan sesuai dengan kebutuhan penelitian.

 

  1. Perumusan Hipiotesis

Hipotesis merupakan pernyataan sementara tentang hubungan antara benda-benda. Hubungan hipotesis diajukan dalam bentuk dugaan kerja atau teori dasar yang merupakan dasar dalam menjelaskan kemungkinan hubungan tersebut. Hipotesis diajukan dengan dasar coba-coba (trial and error). Hipotesis hanya merupakan dugaan yang beralasan, atau mungkin merupakan perluasan dari hipotesis terdahulu yang telah diuji kebenarannya, yang kemudian diterapkan pada data yang baru. Hipotesis berfungsi mengikat data sedemikian rupa, sehingga hubungan yang diduga dapat kita gambarkan, dan penjelasan yang mungkin dapat kita ajukan.[41]

Contoh : terdapat hubungan antara tunjangan profesionalisme dengan pengembangan peningkatan kualitas belajar mengajar di sekolah.

  1. Deduksi dari Hipotesis

Hipotesis menyusun pernyataan logis yang menjadi dasar untuk penarikan kesimpulan atau deduksi mengenai hubungan antara benda-benda tertentu yang sedang diselidiki. Disamping itu, hipotesis dapat menolong kita dalam memberikan ramalan dan menemukan fakta yang baru. Penalaran deduktif, yang ditunjukkan oleh fakta bahwa apa yang kita kenal sebagai pengetahuan keilmuan adalah lebih bersifat teoritis daripada empiris, dan bahwa ramalan tergantung kepada bentuk logika silogistik.[42]

Contoh : peningkatan kualitas pembelajaran dibuktikan dengan prestasi siswa yang semakin meningkat.

  1. Tes dan Pengujian kebenaran (Verifikasi) dari Hipotesis

Pengujian kebenaran dalam ilmu berarti melakukan tes pada berbagai alternatif hipotesis dengan pengamatan kenyataan yang sebenarnya atau melalui percobaan. Keputusan terakhir terdapat pada fakta. Jika fakta tidak mendukung suatu hipotesis maka hipotesis lain dipilih dan proses diulangi kembali. Hakim yang terakhir adalah data empiris atau kaidah yang bersifat umum, atau hukum haruslah memenuhi persyaratan pengujian empiris.[43]

Contoh : jika hipotesis terdapat hubungan antara peningkatan tunjangan profesi dengan peningkatan kualitas pembelajaran tidak terbukti, maka hipotesis dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tunjangan dengan kualitas pembelajaran.

 

RUJUKAN

Alfons, Taryadi. Epistimologi Pemecahan Masalah Menurut Karl R. Popper. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.

Amsal, Bachtiar. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013.

Atjeh, Abubakar. Pengantar Ilmu Tarekat. Solo: Ramadhani, 1993.

Burhanudin, Afid. “Pengetahuan Filsafat Tinjauan Ontologi Epistimologi Dan Aksiologi.” STKIP Pacitan, 2014.

———. “Pengetahuan Mistik.” STKIP Pacitan, 2014.

burhanudin, afid. Accessed January 21, 2016. https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjm7Yyk6LvKAhUJC44KHdO6AKwQFggkMAE&url=https%3A%2F%2Fafidburhanuddin.wordpress.com%2F2013%2F05%2F21%2Fepistimologi-ontologi-aksiologi-pengetahuan-filsafat-2%2F&usg=AFQjCNFDwwMXNwMECfX1bEGNpBe3Afd79w&bvm=bv.112064104,d.c2E.

Gie, The Liang. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2010.

Kattsoff, Louis O. Pengantar Filsafat (dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono). Yogyakarta: Tiara Wacana, n.d.

Maragustam. Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2015.

M.Echols, John, and Hasan Saddily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990.

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu : Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Belukar, 2004.

Mustansyir, Rizal, and Misnal Munir. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Pooper, Karl R. Logika Penemuan Ilmiah Terjemahan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Soemargono, Soejono. Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Nurcahya, 1983.

S.Suriasumantri, Jujun. Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia, 2014.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Widisuseno, Iriyanto. Bahan Ajar Filsafat Ilmu. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2010.

Zaprulkhan. Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

 

 

[1] John M.Echols and Hasan Saddily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1990).

[2] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 2010), 90.

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 67.

[4] Afid Burhanudin, “Pengetahuan Filsafat Tinjauan Ontologi Epistimologi Dan Aksiologi” (STKIP Pacitan, 2014), 2.

[5] Afid Burhanudin, “Pengetahuan Mistik” (STKIP Pacitan, 2014), 4.

[6] Tafsir, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan, 114–116.

[7] Soejono Soemargono, Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Nurcahya, 1983).

[8] Bachtiar Amsal, Filsafat Ilmu (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), 89.

[9] Tafsir, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan, 27.

[10] afid burhanudin, accessed January 21, 2016, https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjm7Yyk6LvKAhUJC44KHdO6AKwQFggkMAE&url=https%3A%2F%2Fafidburhanuddin.wordpress.com%2F2013%2F05%2F21%2Fepistimologi-ontologi-aksiologi-pengetahuan-filsafat-2%2F&usg=AFQjCNFDwwMXNwMECfX1bEGNpBe3Afd79w&bvm=bv.112064104,d.c2E.

[11] Tafsir, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan, 118–119.

[12] Ibid., 121.

[13] Ibid., 89.

[14] Tafsir, Filsafat Mengurai Ontologi, Epistimologi, Dan Aksiologi Pengetahuan.

[15] Zaprulkhan, Filsafat Islam : Sebuah Kajian Tematik (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 123–124.

[16] Ibid., 130.

[17] Abubakar Atjeh, Pengantar Ilmu Tarekat (Solo: Ramadhani, 1993), 257.

[18] Jujun S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu (Jakarta: Pustaka Obor Indonesia, 2014), 134.

[19] Rizal Mustansyir and Misnal Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), 78.

[20] Mohammad Muslih, Filsafat Ilmu : Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Belukar, 2004), 13–14.

[21] Iriyanto Widisuseno, Bahan Ajar Filsafat Ilmu (Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, 2010), 1.

[22] S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, 134.

[23] Mustansyir and Munir, Filsafat Ilmu, 79.

[24] Muslih, Filsafat Ilmu : Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, 14.

[25] Ibid., 32.

[26] Widisuseno, Bahan Ajar Filsafat Ilmu, 3.

[27] S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, 136–137.

[28] Muslih, Filsafat Ilmu : Kajian Atas Asumsi Dasar, Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, 21.

[29] Taryadi Alfons, Epistimologi Pemecahan Masalah Menurut Karl R. Popper (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), 27.

[30] Karl R Pooper, Logika Penemuan Ilmiah Terjemahan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 30.

[31] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2015), 33.

[32] Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat (dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono) (Yogyakarta: Tiara Wacana, n.d.).

[33] Maragustam, Filsafat Pendidikan Islam Menuju Pembentukan Karakter Menghadapi Arus Global, 34.

[34] Ibid.

[35] Ibid.

[36] Ibid., 34–35.

[37] Burhanudin, “Pengetahuan Filsafat Tinjauan Ontologi Epistimologi Dan Aksiologi.”

[38] S.Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif : Sebuah Kumpulan Karangan Tentang Hakekat Ilmu, 140–141.

[39] Ibid., 141.

[40] Ibid.

[41] Ibid., 142.

[42] Ibid., 143.

[43] Ibid., 144.

ANALISIS PERMENDIKNAS NOMOR 24 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah

Dasar Perumusan :

  1. PP Nomor 19 Tahun 2005 Tentang SNP
  2. PP Nomor 9 Tahun 2005 Tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, dan OTK Kementrian RI, diubah PP Nomor 94 Tahun 2006
  3. Kepres RI Nomor 187/M Tahun 2004 Tentang Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu, diubah dengan Kepres Nomor 31/P Tahun 2007

 

Penjelasan :

  1. Standar tenaga administrasi sekolah meliputi kepala tenaga administrasi, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus.
  2. Penyelenggara sekolah wajib menerapkan standar TAS selambat-lambatnya 5 tahun setelah ditetapkan. (Ditetapkan tanggal 8 Juni 2008).

 

Standar tenaga administrasi sekolah

No Komponen Tingkat Kualifikasi
Kepala Tenaga Administrasi SD/MI/SDLB –   Pendidikan minimal SMK atau sederajat.

–   Program studi relevan

–   Pengalaman kerja minimal 4 tahun

–   Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi

Kepala Tenaga Administrasi SMP/MTs –   Pendidikan minimal D3 atau sederajat

–   Program studi relevan

–   Pengalaman kerja minimal 4 tahun

–   Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi

Kepala Tenaga Administrasi SMA/MA/SMALB –   Pendidikan minimal S1, Program studi relevan, Pengalaman kerja minimal 4 tahun

–   Pendidikan D3, program studi relevan, pengalaman kerja 8 tahun.

–   Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi

Pelaksana Urusan Kepegawaian   –   Pendidikan minimal SMA/MA/SMK/MAK

–   Syarat minimal jumlah PTK 50 orang

Pelaksanaan Urusan Administrasi Keuangan   –   Pendidikan Minimal SMK/MAK dengan program studi yang relevan.

–   Pendidikan minimal SMA/MA dan memiliki sertifikat yg relevan.

6. Pelaksana Urusan Administrasi Sarana dan Prasarana   –   Pendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau sederajat.
Pelaksana Urusan Administrasi Hubungan Sekolah dengan Masyarakat SMP-SMA –   Pendidikan minimal SMA/MA/SMK/MAK

–   Syarat minimal memiliki 9 rombel.

Pelaksana Urusan Administrasi Persuratan dan Pengarsipan   –   Minimal lulusan SMK/MAK

–   Program studi yang relevan

Pelaksana Urusan Administrasi Kesiswaan SMP-SMA –   Minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK

–   Syarat minimal memiliki 9 rombel.

Pelaksana Urusan Administrasi Kurikulum SMP-SMA –   Pendidikan minimal SMA/MA/SMK/MAK

–   Syarat minimal memiliki 12 rombel

Pelaksana Urusan Administrasi Umum SD/MI/SDLB –   Pendidikan Minimal SMA/MA/SMK/MAK sederajat
  Petugas Layanan Khusus    
Penjaga Sekolah   –   Minimal lulusan SMP/MTs Sederajat
Tukang Kebun   –   Minimal lulusan SMP/MTs sederajat

–   Syarat luas lahan minimal 500m2

Tenaga Kebersihan   –   Pendidikan minimal SMP/MTs Sederajat
Pengemudi   –   Minimal lulusan SMP/MTs

–   Memiliki SIM yang sesuai

–   Memiliki kendaraan roda empat

Pesuruh   –   Minimal lulusan SMP/MTs Sederajat

 

 

 

PENDIDIKAN ANAK JALANAN

Pendidikan sebagai bagian dari kehidupan sosial bermakna salah satu proses sosialisasi dalam diri individu yang memungkinkan untuk tercipta rasa tanggung jawab serta berbagai bentuk kecakapan lainnya, yang terbentuk pada suatu sistem masyarakat. Sehingga pendidikan menjadi penting untuk dilaksanakan oleh setiap elemen masyarakat. Anak jalanan merupakan fenomena yang cukup miris dan juga mengherankan. Pada aspek birokrasi, mungkin anak jalanan atau anjal itu mengganggu dari kehidupan masyarakat, hal tersebut dikarenakan kecenderungan yang muncul adalah anjal seringkali melakukan berbagai tindakan yang membuat resah masyarakat. Akan tetapi pada sisi berikutnya atau aspek yang lain, fenomena anjal itu menjadi sebuah solusi untuk mengatasi kesulitan mendapatkan

antonperdanamedia.blogspot.com

antonperdanamedia.blogspot.com

kebutuhan dasar kehidupan. Hal tersebut disebabkan ternyata anjal, gelandangan, pengemis (anjal gepeng) adalah kaum yang terpinggirkan atau sering disebut kaum marginal. Jika dipandang dari stratifikasi sosial meskipun bangsa kita tidak mengenal strata tersebut, menempatkan anjal dan gepeng berada pada tingkat yang terendah dan seringkali luput dari perhatian pengambil kebijakan. Konsep pendidikan bagi anak jalanan tentunya sangat baik apabila dapat dilaksanakan secara optimal. Pendidkan dapat menjadi sebuah solusi untuk menghilangkan diskriminasi atau perbedaan perlakuan bagi mereka. Pendidikan dapat dilakukan melalui sarana formal maupun non formal, sehingga dimungkinkan pendidikan bagi para anjal tersebut akan sangat diperhatikan oleh orang tua maupun pihak yang terkait langsung dengan mereka. Sesungguhnya peranan anak jalanan itu sudah diatur dengan sebaik-baiknya, sehingga menghilangkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Langkah memberikan pendidikan non formal juga perlu untuk dilaksanakan bagi mereka yang tidak mampu untuk memasukkan anak-anak tersebut pada lembaga pendidikan formal. Pendidikan tersebut dapat diupayakan melalui sekolah-sekolah pintar yang tidak mensyaratkan untuk memenuhi peraturan yang kaku. Kemudian proses pendidikan juga sebisa mungkin diupayakan untuk secara langsung memberikan pengetahuan nyata tentang cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sehingga ketika pendidikan tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal, maka akan memperkecil kuantitas jumlah anjal, dan dapat meningkatkan taraf hidup mereka, yang kemudian stratifikasi sosial dapat sedikit demi sedikit dihilangkan predikat mereka sebagai “kaum marginal”.

PEMBELAJARAN POLITIK

Seorang politikus yang baik adalah mampu menjalankan setiap kebijakan yang telah dibuatnya serta menjadi teladan bagi pembelajaran politik suatu bangsa. Peran pendidikan dalam rangka ikut berpartisipasi untuk menciptakan seorang politikus yang baik, diantaranya adalah dengan memberikan pendidikan politik atau pembelajaran politik kepada peserta didik. Pendidikan politik yang dimaksud adalah bukan hanya politik yang sukses dan baik, melainkan implementasi politik yang kurang baik juga perlu untuk diberikan. Hal ini berkaitan untuk pemberian konsep politik yang seperti apa seharusnya dilaksanakan dan yang patut untuk dihindari maupun tidak dilaksanakan. Setelah secara konsep diberikan, maka harus ada bentuk simlasi sebagai proses analisis tentang pelaksanaan pendidikan politik. Dimana pada tahap ini seseorang akan mencoba bermain sebuah peran sebagai seorang politikus. Simulasi tersebut dapat dilaksanakan dengan mengacu pada politik yang baik maupun memadukan antara yang baik dan tidak baik. Evaluasi dari sebuah implementasi pendidikan politik menjadi hal yang penting untuk dilaksanakan, sebab pada proses ini berupaya untuk melaksanakan sintesa pada hal-hal yang berkaitan pada saat implementasi. Melalui pendidikan politik yang baik, maka akan lahir politikus yang baik dan cakap.

SDM PENDIDIKAN

Investasi sumber daya manusia merupakan salah satu dari pilar pembangunan sebuah bangsa. Hal ini terkait dengan SDM sebagai unsur yang memiliki kompetensi sangat beragam. Setiap SDM tentunya memiliki berbagai potensi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga karena ada perbedaan tersebut maka akan mengakibatkan pula perbedaan kebutuhan serta kualitas produk yang dihasilkan. Ketika kualitas produk yang dihasilkan oleh SDM yang yang berkualitas memberikan dampak hasil yang baik, maka tingkat pertumbuhan produksi maupun modal suatu bangsa akan menjadi meningkat pula. Berbanding lurus dengan permintaan akan kebutuhan SDM yang dapat meningkat, maka secara otomatis akan meningkatkan produk dan sirkulasi dari produk tersebut. Sehingga ketika keduanya mampu bersinergi dengan baik, maka kualitas kehidupan ekonomi juga akan meningkat. Ketika ekonomi suatu bangsa dalam keadaan yang baik maka pengelolaan pendidikan akan mengalami kemajuan. Oleh karena itu sumber daya manusia merupakan faktor yang penting dan menguntungkan, sebab investasi yang baik dari SDM tersebut akan memacu pertumbuhan ekonomi, ketika kondisi perekonomian baik maka kualitas pengelolaan akan semakin ditingkatkan.

ARTI PENTING TUJUAN PENDIDIKAN BAGI PESERTA DIDIK

A.    LATAR BELAKANG

Manusia adalah makhluk yang dikaruniai keutamaan oleh Allah SWT dibandingkan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Keutamaan manusia terletak pada kemampuan akal pikirannya / kecerdasannya. Dengan kemampuannya ini manusia mampu mengembangkan diri dalam kehidupan yang semakin berkembang. Pengembangan diri untuk mencapai kemajuan dalam kehidupan memerlukan apa yang kita sebut dengan pendidikan. Pendidikan sudah ada sejak adanya peradaban yang diawali dengan proses kependidikan dalam lingkup yang masih terbatas. Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan jaman maka diperlukan satu pendidikan yang dapat mengembangkan kehidupan manusia dalam dimensi daya cipta, rasa dan karsa. Dimana ketiga hal tersebut di atas akan menjadi motivasi bagi manusia untuk saling berlomba dalam mencapai kemajuan sehingga keberadaan pendidikan menjadi semakin penting. Yang pada akhirnya menjadikan pendidikan sebagai kunci utama kemajuan hidup manusia dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan usaha manusia untuk meningkatkan ilmu pengetahuan yang didapat baik dari lembaga formal maupun informal dalam membantu proses transformasi sehingga dapat mencapai kualitas yang diharapkan. Agar kualitas yang diharapkan dapat tercapai, diperlukan penentuan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan inilah yang akan menentukan keberhasilan dalam proses pembentukan pribadi manusia yang berkualitas, dengan tanpa mengesampingkan peranan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Dalam proses penentuan tujuan pendidikan dibutuhkan suatu perhitungan yang matang, cermat, dan teliti agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Oleh karena itu perlu dirumuskan suatu tujuan pendidikan yang menjadikan moral sebagai basis rohaniah yang amat vital dalam setiap peradaban bangsa. Berdasarkan paparan di atas, jelas sekali terlihat bahwa penting sekali untuk memperhatikan dasar dan tujuan dari pendidikan sebab dari sinilah mau ke mana si anak didik akan di bawa dan di arahkan. Bahkan biasanya dasar dan tujuan inilah juga merupakan karakteristik pendidikan suatu bangsa, yang membedakannya dengan bangsa-bangsa yang lain.

B. PENGERTIAN PENDIDIKAN

Tidak dapat disangkal bahwa pendidikan merupakan aspek yang mendasar dalam upaya mempersiapkan sumber daya manusia dalam menghadapi proses dan dinamika kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara.

Pengertian pendidikan menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan di dalam khasanah pemikiran pendidikan Islam, pendidikan mempunyai pengertian usaha untuk merubah anak didik dari satu keadaan kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, dengan cara bertahap yaitu dengan merawat, mengatur, dan membimbing serta mengajarinya sesuatu yang bermanfaat agar bisa hidup bahagia dunia dan akhirat sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Allah swt. (Mohammad Arifin. 2006 : 126)

Output dari pendidikan dapat tercapai secara maksimal jika tujuan dari pendidikan ditentukan dengan tepat dan benar. Oleh karenanya, sebelum menentukan tujuan, sebaiknya kita menentukan dasar / landasannya terlebih dahulu.

Adapun yang menjadi landasan pendidikan nasional kita adalah :

  • Landasan filosofis     :   Pancasila dan UUD 1945
  • Landasan sosiologis   :   masyarakat Indonesia
  • Landasan kultural    :   kebudayaan nasional
  • Landasan psikologis  :   perkembangan peserta didik
  • Landasan ilmiah dan teknologi   :   perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Sedangkan asas-asas atau dasar dalam pendidikan nasional kita adalah :

1. Asas tut wuri handayani yang mencakup 3 semboyan :

  • ing ngarso sung tulada, artinya jika di depan menjadi contoh
  • ing madya mangun karsa, artinya jika di tengah-tengah membangkitkan kehendak, hasrat atau motivasi
  • tut wuri handayani, artinya di belakang mengikuti dengan awas

2. Asas belajar sepanjang hayat (GBHN Bab IV bagian pendidikan) :

    Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat.  Karena itu pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.

      Ada 3 hal mendasar dari asas belajar sepanjang hayat yaitu :

a. Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak  dalam  kandungan  hingga manusia meninggal

b.   Bahwa untuk belajar tiada batas waktu, artinya tidak ada istilah terlalu dini  ataupun  istilah terlambat untuk belajar

 c.  Bahwa belajar atau mendidik diri sendiri adalah proses ilmiah sebagai bagian integral atau merupakan totalitas kehidupan

3. Asas kemandirian dalam belajar : menempatkan guru dalam peran utama  sebagai fasilitator dan motivator, disamping perannya sebagai informator, organisator, inisiator, inspirator, korektor, pembimbing, demonstrator,pengelola  kelas, mediator, supervisor, evaluator. (Suparlan. 2005 : 137)

Dalam dunia pendidikan Islam yang menjadi dasar / landasan pendidikan adalah Al Quran dan Al Hadits. Ini dapat dilihat dari :

a. Qs. Asy-Syura : 52

Dan demikian kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Quran) dengan  perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya yang kami beri petunjuk dengan dia siapa yang kami kehendaki diantara hamba-hamba kami.

Dan sesungguhnya kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalannya yang  benar

b. Hadits Nabi Muhammad saw ( Al-Gazali, Ihya’ Ulumuddin hal 90)

Sesungguhnya orang mu’min yang paling dicintai oleh Allah ialah orang  yang senantiasa tegak dan taat kepada Nya dan memberikan nasehat kepada hamba Nya, sempurna akal pikirannya, serta menasehati pula akan dirinya sendiri, menaruh perhatian serta mengamalkan ajaran Nya selama hayatnya, maka beruntung dan memperoleh kemenangan ia.“ (http://www.sanaly.com/materi/pendidikan Islam Menuju Masyarakat madani)

C. TUJUAN PENDIDIKAN UMUM DAN ISLAM

Setelah dasar / landasan pendidikan ditetapkan, kita dapat menyusun tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Ada beberapa pendapat mengenai tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli, beberapa diantaranya :

1. Tujuan Pendidikan Menurut Para Ahli

a. Menurut Prof. H. Zahara Idris, M.A

Tujuan pendidikan adalah memberikan bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya supaya dapat mengembangkan potensi fisik, emosi, sikap, moral, pengetahuan dan keterampilan semaksimal mungkin agar menjadi manusia dewasa.

b. Menurut M. Noer Syam

   Tujuan pendidikan adalah agar seseorang mempunyai kepribadian yang sesui dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.

c. Menurut Ki Hajar Dewantoro

   Tujuan pendidikan adalah agar anak sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

d. Menurut Al Ghazali

   Tujuan pendidikan adalah beribadah dan taqarub kepada Allah dan kesempurnaan insani yang tujuannya kebahagiaan dunia akhirat.

e. Menurut Shaleh Abdul Azis dan Abdul Najib

   Tujuan pendidikan adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah dan mengusahakan penghidupan.

f. Menurut Abdull Fayad

   Tujuan pendidikan adalah persiapan untuk hidup akhirat dan membentuk perorangan dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menunjang kesuksesannya hidup di dunia.

Dalam dunia pendidikan Islam, tujuan pendidikan mempunyai arti yang sangat luas dan dalam. Seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individual dan sebagai makhluk sosial yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agamanya. (Suparlan. 2005 : 148)

2. Tujuan Pendidikan Menurut Islam

a. Tujuan umum yaitu mengantarkan anak didik supaya menjadi hamba Allah yang taat.

Termuat dalam Qs. Adz-Dzariyat : 56 : “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku ” dan dalam Qs. Al-Bayyinah : 5 : “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan  ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.

b. Tujuan pribadi yaitu tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang dari pendidikan, yang mencakup aqidah, ilmiyah, jasmaniyah, fikriyah, siyasiyah dan lain-lainnya.

c. Tujuan kemasyarakatan yaitu membentuk sebuah masyarakat yang beramar ma’ruf nahi munkar. “Kamu adalah umat yng terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”  (Qs. Ali Imran : 110 ). (Saleh Abdullah abdurrahman. 2005: 87)

Adapun yang dimaksud dengan masyarakat beramar ma’ruf nahi munkar adalah :

  • Umat yang menyebarkan Islam dan berdakwah kepada Nya
  • Umat yang menerapkan hukum Allah swt
  • Umat yang selalu bekerjasama dalam menegakkan kebaikan dan ketaqwaan
  • Umat yang mampu memperhatikan peradaban manusia, yang diaplikasikan dalam beberapa hal :
  • Berusaha untuk menguasai bidang ekonomi
  • Berusaha untuk menguasai bidang teknologi
  • Berusaha menguasai bidang manajemen
  • Selalu memperhatikan pembangunan infra struktur
  • Selalu memperhatikan bidang akhlaq

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan otak, penalaran, perasaan, dan indra. Karenanya pendidikan harus mampu melayani petumbuhan manusia dalam segala aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah, maupun bahasanya. Dan tujuan terakhir dari pendidikan Islam terletak pada  realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt. Seperti termuat dalam Al-Qur’an surat Al-An’am (6) ayat 162 :  “Katakanlah : sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah bagi Allah, Tuhan semesta alam”. Diharapkan dengan  kemampuan akal pikirannya  manusia mampu membaca, memahami,  menjelaskan, dan menganalisis gejala alamiah yang merupakan tanda-tanda kekuasaan  Allah yang selanjutnya akan mewujudkan manusia yang paripurna yaitu manusia yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat. (www.ponpes ulul albab Lampung.com/Pendidikan Islam. 2008)

D. TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

Setelah membahas tujuan pendidikan dari sudut pandang umum dan dari khasanah pemikiran Islam, sekarang kita akan mencoba membahas tujuan pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Ada beberapa rumusan mengenai tujuan pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia, namun yang akan kita bahas di sini adalah rumusan yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 serta rumusan menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tujuan pendidikan nasional dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud disini bukan semata-mata kecerdasan yang hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual saja, melainkan kecerdasan meyeluruh yang mengandung makna lebih luas.

Sedangkan tujuan pendidikan nasional menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dirumuskan sebagai berikut : pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.(Saleh Abdullah Abdurrahman. 2005 : 137)

Dari rumusan tujuan pendidikan nasional kita dapat menyimpulkan bahwa manusia yang ingin dihasilkan dari sistem pendidikan di Indonesia adalah manusia yang mumpuni, yang mampu menjawab tantangan jaman namun tetap berakar pada nilai-nilai moral yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan pada persoalan-persoalan kebangsaan yang sangat krusial dan multidimensional. Hampir semua bidang kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat mengalami krisis berkepanjangan. Banyak kalangan menilai bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia yang rendah baik secara akademis maupun non akademis. Hal ini dapat kita lihat dari hasil penelitian UNDP pada tahun 2007 tentang HDI (Human Development Index) dimana Indonesia menduduki peringkat ke 107 dari 177 negara yang diteliti. Dan dibandingkan dengan negara-negara ASEAN yang dilibatkan dalam penelitian, Indonesia menempati posisi yang paling rendah (HD Report 2007/2008). Salah satu unsur utama dalam penentuan HDI adalah tingkat pengetahuan bangsa atau tingkat pendidikan bangsa tersebut. (http://www.sanaly.com/materi/pendidikan Islam Menuju Masyarakat Madani)

  Oleh karenanya di masa sekarang ini Pemerintah cenderung lebih memprioritaskan iptek dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia.  Karena selama ini Indonesia dikenal hanya mampu menyediakan sumber daya / tenaga kerja  murah ke luar negeri. Pemerintah berharap dengan prioritas di bidang iptek Indonesia mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas yang nantinya dapat merebut peluang untuk hidup, sehingga kita tidak hanya sejajar, tetapi bisa berkompetisi dengan negara-negara lain, terutama dalam menghadapi pasar bebas yang kompetitif.

Namun dampak dari kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah semakin lunturnya nilai-nilai moralitas bangsa. Pendidikan hanya mampu mencetak manusia jenius tetapi tanpa hati nurani. Sebagai contoh banyak terjadinya kecurangan dan perilaku tidak jujur yang dilakukan oleh oknum pelaku dunia pendidikan ketika Ujian Nasional SMP dan SMA digelar yang dipenuhi berbagai macam kasus, mulai dari pembocoran soal, bocornya kunci jawaban, contek mencontek serta tindakan curang lainnya yang menghalalkan segala cara agar dapat lulus UN. Yang disayangkan, perilaku tak jujur ini dilakukan secara berjamaah antara kepsek, guru, dan siswa. Sungguh ironis sekali. Guru yang seharusnya dicontoh dan diteladani oleh muridnya, malah mencorengkan arang ke mukanya sendiri. Contoh lain dari menurunnya moralitas kaum terpelajar yaitu masih sering terjadinya perkelahian  antar pelajar, bahkan belum lama ini terjadi kekerasan yang dilakukan sekelompok anggota geng pelajar putri terhadap pelajar putri lain. Apakah tindakan-tindakan tersebut mencerminkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ideologi bangsa yang dijadikan sebagai landasan tujuan pendidikan nasional ? Bagaimana derajat budi pekerti, kepribadian dan semangat kebangsaan para pelaku pendidikan ? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus mampu dijawab oleh Pemerintah tentunya dengan peran serta seluruh komponen pendidikan dan masyarakat. Wallahu A’lam

Sumber :

http://www.sanaly.com/materi/pendidikan Islam Menuju Masyarakat Madani.

Mohammad Arifin, 2006. Ilmu Pendidikan Islam : Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisiplinel. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Saleh Abdullah, Abdurrahman, 2005. Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Quran. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Suparlan, 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa : Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi. Jakarta : Hikayat Publishing.

www.Ponpes Ulul Albab Lampung.com/Pendidikan Islam, 2008

MANAJEMEN KANTOR LEMBAGA PENDIDIKAN

  1. Apa Definisi Kantor ?
  2. Apa Definisi Manajemen Kantor ?
  3. Hal-hal apa saja yang di manajemen ?

KONSEP DASAR

  1. Definsi Kantor
    1. Statis : tempat diselenggarakannya untuk menangani informasi atau keterangan
    2. Dinamis : proses menangani informasi sejak dari menerima, mengumpulkan, mengolah, menggandakan, menyalurkan, menyimpan, serta mengirimkan (surat keluar).
  1. Jenis kegiatan yang ada di kantor
    1. Penanganan surat
    2. Penerimaan tamu
    3. Pelayanan telepon
    4. Surat menyurat : bentuk surat resmi atau surat dinas.
  1. Peranan pokok pekerjaan kantor
    1. Melayani pekerjaan operatif : semua dapat berjalan lancar
    2. Menyediakan keterangan bagi pucuk pimpinan organisasi dalam  pembuatan keputusan
    3. Membantu kelancaran perkembangan organisasi
  1. Ciri utama pekerjaan kantor
    1. Bersifat pelayanan
    2. Merembes ke segenap bagian dalam organisasi
    3. Dilaksanakan oleh semua pihak
  1. Pengorganisasian pekerjaan kantor
    1. Desentralisasi
    2. Sentralisasi : terpusat pada satu ruangan

Asas Sentralisasi

No

Kelebihan

Kekurangan

1.

Komunikasi dan kerjasama lebih optimal Pekerjaan atau tugas lebih berat dikarenakan menumpuk  pada satu sentral/ bagian saja.

2.

Lebih mudah dalam melaksanakan koordinasi Banyak pekerjaan kantor yang tertunda karena banyak pekerjaan yang ditangani.

3.

Pemimpin bisa mengawasi pekerjaan secara langsung Suasana kerja kurang kondusif

4.

Birokrasi mudah Terjadi antrian yang sangat panjang karena semua urusan berada pada satu tempat

5.

Hemat waktu, tempat, dan alat. Adanya penyalahgunaan tugas dan wewenang

6.

Pegawai lebih fleksibel Arsip yang dibutuhkan sulit untuk ditemukan.

Asas Desentralisasi

No

Kelebihan

Kekurangan

1.

Pengembangan staf lebih optimal Tidak hemat waktu, sarana, dan alat

2.

Lebih cepat dalam menangani pekerjaan kantor karena hanya satu bidang kerja yang ditangani Membutuhkan tenaga pegawai lebih banyak

3.

Kesalahan kerja lebih dapat diminimalkan Koordinasi kurang berjalan dengan baik

4.

Lebih mudah untuk menata ruangan Pimpinan sulit melakukan pengawasan

5.

Instruksi pimpinan lebih jelas Komunikasi antar bagian bagian kurang

6.

Suasana kerja lebih kondusif

7.

Penyimpanan arsip terdapat di arsip bagian

Proses Penanganan Informasi

  1. Menerima
  2. Mengumpulkan
  3. Mengolah
  4. Menggandakan
  5. Menyalurkan
  6. Menyimpan
  7. Mengirim

Syarat Lingkungan Fisik Kantor :

  1. Cahaya tidak langsung yang akan memelihara kesejukan mata
  2. Ventilasi : peredaran udara segar/ udara yang telah dibersihkan harus disesuaikan dalam ruangan kerja
  3. Suhu udara : temperatur yang layak harus dipertahankan dalam ruangan kerja (minimal 160 C)
  4. Pertolongan pertama : dalam ruangan kerja harus disediakan kotak P3K untuk pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan dan harus disertai petugas yang terlatih untuk memberikan pertolongan.
  5. Tempat duduk : petugas harus disediakan tempat duduk untuk keperluan bekerja dengan sandara kaki bila perlu.
  6. Kebersihan : bangunan perlengkapan dan perabotan harus dipelihara bersih.
  7. Luas ruang kantor : ada jarak
  8. Fasilitas kesehatan : kamar kecil, toilet, dan sejenisnya harus disediakan
  9. Fasilitas cuci
  10. Penjagaan kebakaran
  11. Tempat sampah
  12. Dispenser
  13. Lemari
  14. Warna
  15. Gudang
  16. Tempat ibadah
  17. Ruang tamu
  18. Papan pengumuman

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 702 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 26,299 hits

ONLINE VISITORS

%d blogger menyukai ini: