BUDI SETIYO PRABOWO

Beranda » Materi Kuliah » PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN

PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN

Start here

A.    TIPE SUPERVISI PENDIDIKAN

         Piet Sahertian (1986 : 32) mengemukakan bahwa dalam melaksanakan fungsinya sebagai supervisor, ada empat sikap pelaksanaan supervisi yang mungkin terjadi :

1. Supervisor yang otokratis

Supervisor penentu segalanya, seorang supervisor yang otokratis akan memperlihatkan kekuasaanya. Ia berpendapat bahwa tanggung jawabnya sebagai supervisor besar sekali, bahkan seolah – olah hanya dialah yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses pendidikan. Maju mundurnya pendidikan akan sangat bergantung kepadanya. Sehubungan dengan hal itu ia bekerja jeras, teliti dan tertib, teratur, cepat dan tegas. Agar dapat mencapai kehendakknya. Bawahan pun harus bekerja keras dan sungguh-sungguh. Dia merasa takut dan cemas kalau-kalau apa yang dikerjakan bawahan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu pengawasan yang dilaksanakan sangat ketat. Situasi sekolah sangat tegang, tata tertib harus ditaati. Dialah yang membuat tatatertib itu. Dia pulalah yang mengawasi dan menilai bawahannya. Guru tidak diberikesempatan untuk berinisiatif dan mengembangkan daya kreatifnya. Dia sangat menentukan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Apa yang menurut pendapatbya benar itulah yang benar, tidahk dapat dibantah oleh guru.Supervisor seperti ini lebih tepat disebut dengan inspeksi yang beranggapan bahwa dialah yang mengetahui dan menentukan segala apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, alat apa yang harus dilakukan, dan sekaligus bertugas mengawasi semua pelaksanaan secara ketat.

 2.  Supervisor yang demokratis

      Mementingkan musyawarah mufakat dan bekerjasama atau gontong royong secara kekeluargaan.Supervisor yang dianggap baik dan sesuai dalam masa sekarang adalah yang demokratis. Semua anggota staf sekolah bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Semua keputusan diambil secara bersama melalui musyawarah dan mufakat. Supervisor menghargai dan menghormati pendapat semua guru. Supervisor memberikan kesempatan dan dorongan untuk mengembangkan daya kreatiof dan inisiatif guru, supervisor tidak melaksanakan kegiatannya sendiri tetapi bersifat bijaksana dalam membagi tugas dan tanggung jawab. Supervisor yang demokratis mementingkan asas musyawarah untuk mufakat dan bekerjasama atau bergotong royong secara kekeluargaan. Supervisor ingat bahwa tugasnya ialah membina stafnya, dan secara bersama-sama menentukan apa yang harus dikerjakan, prosedur dan cara melaksanakan, melaksanakan dan mengevalusi kegiatannya. Ia akan bersifat raqmahtamah selalu bersedia menolong bawahannya dengan memberi nasehat, anjuran, serta petunjuk jika dibutuhkan. Ia menginginkan secara tulus agar para guru berusaha maju dan dapat mencapai kesuksesan masing-masing dan akhirnya terciptalah suasana kekeluargaan yang sehat dan menyenagkan.

3. Supervisor yang manipulasi diplomatis

     Mengarahkan orang yang disupervisi untuk melaksanakan apa yang dikehendaki supervisor dengan cara musulihat. Supervisor tipe ini mengartikan demokrasi sebagai pengarahan (direccting) kepada bawahan untuk melaksanakan keinginannya dengan cara memanipulasi atau merekayasa, muslihat, untuk memaksakan kehendaknya. Karena hanya berpura-pura saja bertindak demokratis, maka disebut pula demokrasi semu atau pseoudo-demokratis. Supervisor yang bersifat  pseoudo-demokratis sering memakai topeng. Ia berpura-pura memperlihatkan sifat demokratis didalam kepemimpinannya. Ia memberi hak dan kuasa kepada guru untuk menetapkan dan memutuskan sesuatu, tetapi sebenarnya bekerja dengan perhitungan. Ia mengatur siasat dan strategi agar kemauannya bisa terwujud. Dengan tingkah laku, bahasa dan sikapnya yang halus ia ingin memberi kesan bahwa ia bersifat demokratis. Dalam pergaulan sehari-hari ia sanat sopan dan selalu ingin memberi pertolaongan kepada bawahannya jika diminta, tetapi sikap dan sifat yang ditonjolkan itu mempunyai maksud agar memperoleh kepercayaan dari para guru yang dikasihinya. Masalah-masalah disekolah dibicarakan dulu dengan guru-guru yang berpengaruh sebelum dibawa ke rapat dewan guru. Didalam rapat ia banyak memberi kesempatan pada guru untuk berpendapat, tetapi sebenarnya ia licik dan berusaha dengan merekayasa agar pendapatnya yang harus diterima.  Denikianlah supervisor yang bersifat pseoudo-demokratis yang sebenarnya. Ia itu adalah seorang yang otokratis tetapi dalam pelaksanaan tugasnya seolah-olah demokratis.

4. Supervisor yang laissez-faire

    Memberikan kebebasan dan keleluasan kepada orang yang disupervisi untuk melakukan apa yang dianggap mereka baik. Supervisor yang bersifat laissez-faire memberikan kebebasan pada para guru untuk bekerja sesuka hatinya, berinisiatif dan menurut kebijaksanaan sendiri. (Soekarto Indrfahrudi hal 26). Supervisi tipe ini biasanya bekerja tanpa rencana, karena rencana berarti akan mengekang kebebasan para guru, sudah dapat ditebak hasiol kerja para guru karena tidak ada rencana dan pengarahan maka akan timbul bermacam-macam hasil, sehingga akan tidak karuan hasilnya. Supervisor samasekali tidak menganakemaskan dan mernganak tirikan guru, semua diperlakukan sama. Kebebasan atau keleluasaan untuk melakukan apa yang mereka anggap baik, diartikan sebagai demokratis. Supervisor tipe ini tidak jelas atau kabur dalam kepemimpinanya karena bawahan bebas bertindak seolah-olah dibiarkan saja tanpa ada yang memimpin. Superfisor bersikap apatis acuh dan segala sesuatu diserahkan begitu saja kepada bawahan (Ametembun, 1975 : 50)

B.     PROSES SUPERVISI PENDIDIKAN

1. Supervisi yang bersifat korektif

   Lebih mencari kesalahan orang yang disupervisi. Memang mudah sekali untuk mengoreksi, melihat kesalahn – kesalahann orang lain, tetapi yang lebih sulit adalah mencari menemukan serta melihta segi – segi positif orang lain. Kebiasan seperti ini perlu dirubah dalam rangka meningkatkan kemampuan profesional guru. Kesalahan atau kekurangan yang ditemukan dalam guru hendaknya diartikan sebagai suatu penemuan yang mengawali suatu usaha kearah perbaikan secara keseluruan. Berdasarkan pendirian ini maka pelaksanaan supervisi yang hanya bermaksud mencari kesalahan merupakan langkah awal  suatu ketidak berhasilan, kalau tidak mau dikatakan awal kegagalan. Kesalahan umum memang sering terdapat didalam suatu pekerjaan, misalnya salah ucapan, menyebut nama murid terlebih dahulu tanpa mengajukan pertanyaan lebih dulu, salah menulisklan angka dan sebagainya. Sebagai guru sudah mengetahui dan menyadari akan hal – hal yang baik dan hal – hal yang tidak baik, yang benar dan yang tidak benar tetapi bisa jadi kita berbuat yang tidak benar. Sebagai supervisor perlu menyadari bahwa mencari keaslahan orang lain justru bertentangan dengan tujuan dan prinsip supervisi. Kalu hal semacam ini dilakukan oleh supervisor, niscaya guru akan menjadi tidak puas dan akan menumbuhkan rasa pertentangan dan akhirnya guru bekerja semaunya. Hal ini tidak berarti bahwa kegiatan supervisio yang sifatnya korektif tidak diperlukan, tetapi yang lebih penting ialah bagaimana menempatkan kesalahan dan kekurangan pada proporsi yang sebenarnya. Kesalahan bisa bermacam – macam, mungkin kesalahan itu kiurang penting sehingga dilewatkan, ada kesalahan yang perlu diperingatkan, bahkan ada kesalahan yang dianggap seriuys yang memperlukan penanganan serius juga. Singkatnya bila kesalahan sangat fatal sehingga memerlukan perhatian, maka supervisor berkewajiban membantu guru agar dapat menyusun rencana penyelesaian secara konstruktif kearah peningkatan profesionalnya.

2. Supervisi yang Preventif

Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan atau kesalahan-kesalahan para guru. Berdasarkan pengalaman hasil observasi dan pengetahuannya selama ini supervisor mengemukakan kesulitan-kesulitan yang pernah dihadapi para guru. Faktor-faktor yang menyebakan kesulitan tersebut ada beberapa hal, mungkin karena kelemhan atau keterbatasan guru. Beberapa usaha positif yang dapat disampaikan kepada para guru untuk mencergah kemungkinan berbuat kesalahan dan menambah pengalaman guru misalnya :

–  Menceritakan pengalaman guru yang berhasil

–  Membaca brosur-brosur yang berisi bagaimana mengatasi kesulitan- kesulitan disekolah

– Melalui diskusi-diskusi yang wajar tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan alternatif pemecahannya

Supervisi yang bersifat mencegah kesulitan yang dihadapi akan memupuk rasa percaya diri pada guru dan menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Supervisor yang bersifat prefentif wajib memberikan bantuan kepada guru untuk menjaga semangat kerjanya, kerberaniannya, kemampuan untuk berkembang dan sebagainya. Sehingga mereka merasa siap untuk menghadapi situasi-situasi yang baru secara optimis melihat masa depan dalam melaksanakan tugas yang diembannya.

3.  Supervisi yang bersifat Konstruktif

Supervisi ini akan lebih diarahkan kepada usaha-usaha yang bersifat konstruktif, supervisor yang baik akan mengawali tugasnya dengan melihat permasalahan dari segala arah dan tujuan pendidikan. Supervisor yang bersifat konstruktif akan menggantikan langkah-langkah mencari kesalahan yang tidak bermanfaat bagi perkembangan dan pertumbuhan yang lebih baik. Tidak ada guru yang tidak mempunyai kesalahan, sekolah-sekolah yang baik dan terkenal bukan karena gurunya tidak mempunyai kesalahan. Tetapi justru dengan kesalahan-kesalahan maka problem yang dihadapi akan menimbulkan kreasi yang baru yang harus dipandang oleh supervisor secara konstruktif. Guru akan lebih senang dan giat bekerja dalam situasi pertumbuhan damn perkembanga yang sehat Dari pada harus menderita batin karena ulah supervisor yang selalu menyalahkan dan tidak puas.

4. Supervisi yang bersifat Kreatif

Supervisi ini lebih banyak memberikan kebebasan dari pada supervisi yang bersifat konstruktif. Dulu diharapkan bahwa dengan kemampuan berfikirnya sendiri dapat mencapai hasil yang efektif. Guru dapat belajar dari teman sejawat, mencontoh kepala sekolah dan yang lainnya, tetapi pada saat tertentu ia sendiri harus menunjukkan daya usahanya sendiri. Secara singkat dapat dikemukakan supervisi yang bersifat kreatif memberi kebebasan dalam keterikatan untuk mengembangkan daya kreasi dan daya karya sehingga tugas supervisi hanya memberikan rangsangan untuk menimbulkan daya kreatif guru-guru. Untuk it kerjasama yang erat dan harmonis perlu dijaga dalam melaksanakan tugas.

5.Supervisi yang bersifat kooperatif

Supervisi ini lebih mementingkan kerjasama dengan orang-=orang yang disupervisinya, supervisor akan melaksanakan tugasnya dengan :

  • Mengadakan perencanaan bersama
  • Mengambil keputusan bersama atas dasar musyawarah dan mufakat
  • Mengorganisir bersama kegiatan-kegiatan
  • Mengadakan pengawasan bersama terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan
  • Merngadakan evaluasi dan merevisi program bersama-sama dengan orang-orang yang disupervisi

Supervisor selalu mengikutsertakan pihak yang berkepentingan atau melalui wakil-waliknya yang representatif dalam memajukan sekolah. Untuk memperoleh partisipasi yang baik perlu diperhatikan beberapa ketentuan :

  • Setiap peserta harus dihargai sebagai seorang pribadi
  • Setiap peserta diakui mempunyai kebebasan dalam melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan
  • Diperlukan iklim/suasana yang memyenangkan
  • Tersedianya fasilitas-fasilitas yang memuaskan
  • Ada keberanian untuk memgadakan kritik dan evaluasi diri
  • Ada kesediaan untuk memikul tanggung jawab
  • Ada kesadaran akan tugas bersama
  • Adanya toleransi antara sesama anggota dan menghargai musyawarah untuk mufakat
  • Ada ketentuan batas-batas kekuasaan dan tanggung jawab

 

C.Pemimpin dan supervisi efektif

  Sebagai pemimpin pendidikan disekolah, alah satui tugas kepala sekolah adalah mengambil kepoutusan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sekolah. Pengambilan keputusan yang efektif tidak mudah dilaksanakan oleh seorang pemimpin atau supervisor perlu meneliti lebih dulu unsur-unsur didalam proses pengambilan keputusan agar dapat efektif. Unsur-unsur itu adalah :

  • Filosofi
  • Konteks
  • Informasi
  • Partisipasi
  • Pemilihan waktu

Efektifitas kepemimpinan pendidikan diuklur adanya perubahan-perubahan positif yang telah terjadi dalam diri guru-guru dan bukan semata-mata oleh apa yang telah dikerjakan oleh supervisor. Pemimpin pendidikan harus mempunyai karakter dan kesanggupan untuk memperngaruhi orang lain, mengembankan usaha kerjasama dan mendayagunakan segenap kecakapan guru-guru. Secara singkat pimpinan pendidikan dalah seorang yang dapat membimbning guru-guru secara efisien dan dapat menanamkan kepercayaan, menstimulir dan membimbing usaha kooperative dan dapat menunjukkan kemampuannya membantu guru memecahkan masalah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: