BUDI SETIYO PRABOWO

Beranda » Artikel Pendidikan » Ruang IGD

Ruang IGD

Start here

-RUANG IGD…
Oleh : Hanafi E. Utoyo

Robbana ya robbana, robbana dholamna anfusana, wa in lam taghfirlana wa tarhamna lana kunana minal khosirin. Robbana ya robbana, robbana dholamna anfusana, wa in lam taghfirlana wa tarhamna lana kunana minal khosirin. Robbana ya robbana…..
Nyanyian pujian ini samar-samar membimbingku, lambat laun meraung-raung dibatok kepala. Aku tak berdaya mengunci mulut dan begitu saja mengikuti alunan nada puji-pujian itu. Merambat pelan berirama, syahdu dengan menguatkan dan mengeraskan suara diawal setiap kata dari puji-pujian itu sambil kepala menggeleng-geleng ke kiri-ke kanan mengikuti lantunan puji-pujian. Aku menyaksikan terus dan terus berulang-ulang, duduk didalam masjid yang gelap, menanti datangnya shalat fardhu.
Seketika aku terhenyak dan diam, bukan oleh suara iqomat yang nyaring tanda shalat ditunaikan, tetapi ada yang menyumpal di lubang hidungku dengan aroma yang menyengat. Mataku secara reflek menyelidik, bayang-bayang berputar mengitariku.
“Alhamdulillah, sudah siuman”, seorang berbaju hijau berujar, tangan orang ini yang menyumpal hidungku.
Kerumunan semakin dekat wajahku, beradu pandang dengan istriku yang menangis dan beberapa tetangga membisu. Orang berbaju hijau itu dengan sigapnya mengendorkan sumpalan hidung lalu membasahi dengan cairan dan ditaruh lagi didepan hidungku, aromapun semakin menyengat tercium, aku semakin paham dengan sekelilingku.
Masya Allah, ternyata aku tergeletak di ruang IGD Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, hal ini aku ketahui dari label yang terdapat pada ujung selimut yang menutupiku, keyakinanku semakin jelas dengan ruang yang serba hijau muda dan kelambu-kelambu hijau muda, orang yang berbaju hijau muda adalah perawat yang menyadarkanku.
“Bapak jangan bangun dulu”, suara lembut menyeruak di antara kerumunan, seorang wanita separuh baya berbaju putih-putih, oh…ini Bu dokter…
“Coba tangan kanan diangkat, Bapak!” pintanya menyelidik. Akupun ikuti perintahnya.
“Bagus, jarinya digerakkan”.
Jari tangan kanan ku remas-remas,
“Bagus, yang tangan kiri”.
Tangan kiri ku angkat tinggi-tinggi.
“Hopp…! “Bagus, jarinya”.
Jari tangan kiri ku remas-remas dan pergelangan tangan ku putar-putar.
“Bagus…bagus”.
“Bapak, sekarang kaki kanan,” lanjutnya.
Aku angkat kaki kanan, ku gerakkan jari-jarinya dan seketika tanpa diperintah ku angkat kaki kiri sejajar dengan sejajar dengan yang kanan, ku gerakkan pula jari-jarinya. Lalu aku tekuk lutut dan ku luruskan kembali secara berulang-ulang.
“Sudah…sudah, cukup,” cegah Bu dokter tersenyum simpul. Perawat di sebelahnya tertawa kecil melihat kelucuan gerakkan seperti bayi yang girang-girangnya menggerakkan kaki tangannya di udara. Istriku beserta tetanggaku tanpa ekspresi melihat kelakuanku, wajah-wajah mereka menunjukkan rona kesedihan.
Saat dokter mendiagnosis temuan-temuan data yang ada pada tubuhku, istriku menjelaskan, bahwa sore menjelang maghrib saat aku menutup jendela rumah, suatu kegiatan rutinitasku di setiap sore, tiba-tiba aku jatuh pingsan, tetangga banyak datang memberi pertolongan, kebetulan ada tetangga yang punya mobil sehingga mempercepat aku dibawa ke Rumah Sakit ini, jarak tempuhnya kira-kira 20 menit dan aku terbaring hingga sadarkan diri di ruang IGD ini lebih kurang 40 menit, ya…..60 menit aku pingsan. Waktu dinaikkan mobil hingga siuman, aku mendengkur kadang keras kadang lemah, seperti dengkuran sapi atau kambing saat hewan korban ini disembelih mengeluarkan udara pernafasan berulang dari tenggorokannya yang terputus, hembusan udara itu tersengal-sengal dengan suara dengkuran berat, begitu sering kami saksikan saat hari raya haji tiba.
Padahal saat itu yang aku rasakan adalah dzikrullah dengan alunan puji-pujian. Puji-pujian robbana ya robbana lazim didendangkan di masjid kampung asalku di pelosok pedesaan jauh dari kota pendidikan yang kini aku tinggal, dari sejak kecil bahkan mungkin masih di kandungan aku mengenal puji-pujian ini, keluarga dan masyarakatku yang amat religius berduyun-duyun ke masjid untuk berjamaah saat waktu shalat tiba, mengisi waktu luang usai adzan hingga iqamat juga sambil menunggu jamaah berdatangan, maka puji-pujian itu dilantunkan.
Akupun secara otomatis ikut-ikutan berdendang, bahkan bersama anak-anak yang lain dengan suara sumbang saling berebut pengeras suara masjid dan teriak sekencang-kencangnya, sering aku mendapatkan hadiah sentilan keras di telinga dari pak kyai sesepuh kampong. Baru akhil baligh aku mengerti bahwa puji-pujian ini bukanlah suatu gubahan syair atau lagu tapi ayat Al-Quran yakni surat Al A’raf : 23
“Tuhan kami, Kami telah menganiya diri sendiri dan jika tidak Engkau ampuni kesalahan kami dan tidak Engkau mengasihi Kami tentulah kami orang yang merugi”.
Ayat ini merupakan doa mohon ampunan dari Nabi Adam dan istrinya Hawa usai melakukan kesalahan yang disebabkan oleh tipu daya syetan, memakan buah khuldi yang oleh Tuhan telah diperingatkan dan melarang Nabi Adam dan Hawa mendekati tumbuhan buah khuldi, salah satu tumbuhan surga. Dengan doa ini, Nabi Adam dan Hawa diampuni walau tetap mendapat sanksi atas melanggar perintah dengan diturunkannya ke bumi.
Para alim ulama berpendapat bahwa doa ini dan juga doa-doa Nabi yang termaktub dalam Al Quran dapat diamalkan menjadi doa harian kaum muslim, dan untuk memudahkan mengingat dan menghafalnya maka ayat ini dibaca puji-pujian. Dengan demikian puji-pujian ini sudah jadi habid dalam diri, keluarga dan masyarakat kampungku. Walau kini aku sudah tinggal jauh dari asalku dan amat jarang mendendangkan puji-pujian itu, namun aku pikir ini sebuah kejadian yang biasa-biasa saja. Aku berpuji-pujian di bawah alam kesadaranku saat pingsan, itu merupakan endapan memori yang sifatnya kuat melekat di otak dan muncul di bawah alam sadar. Kemunculan ini memaksa organ-organ tubuh untuk ikut bergerak mendendangkan puji-pujian, nampaknya ada ketidak sempurnaan gerak pita suara berdendang disaat dalam kondisi tidak sadar, alhasil yang muncul adalah irama dengkuran.
Dengkuran dan lamanya aku pingsan membuat semuanya panik dan putus harapan. Sesampainya di rumah sakit, aku langsung dibawa ke ruang IGD. Perawat-perawat dengan cekatan dan terampil memberiku pertolongan, sejurus kemudian seperti sudah terorganisir secara rapi perawat-perawat itu menidurkanku secara terlentang, pakaian dikendorkan, diselimuti dan hidung dirangsang dengan bau-bauan. Ada perawat yang mengukur tekanan darah setelah itu mengambil sampel darahku dengan alat suntik terus dibawa ke laboratorium yang ruangannya tak jauh dari IGD. Selanjutnya tinggal satu perawat yang masih mengurusi aku, dia yang tangannya memegang kapas berlumur bau-bauan merangsang hidungku, sedang perawat lain berhamburkan menangani pasien baru. Kebetulan sore itu, banyak pasien yang berdatangan di IGD.
“Hasil diagnosis, Bapak tidak harus scan otak”, begitu penjelasan awal Bu dokter IGD. Aku, istriku dan tetangga yang menolong mengantarku takzim mendengarkan penjelasannya.
“Bapak baiknya mondok, karena tekanan darahnya sangat tinggi dan Hb dibawah normal, sambil menunggu hasil laboratorium lainnya disamping itu juga untuk mengetahui perkembangan kondisi selanjutnya”.
Sesaat kami saling pandang.
“Ya, demikian lebih baik”, celutukku memotong kebisuan. Istriku pun mengangguk lirih diikuti tetangga-tetanggaku mengiyakan.
“Selanjutnya Bapak ditangani dokter spesialis penyakit dalam”, Bu dokter mengakhiri pembicaraan sambil meminta pak perawat untuk mempersiapkan aku masuk bangsal.
Seperti sudah standar penangan Rumah Sakit, aku langsung diinfus. Aku ikuti saja kemauan perawat. Pada punggung tangan kiriku ditusuk jarum, pangkal jarum itu berhubungan dengan selang plastik kecil yang terkait dengan botol infus. Cairan infus digantungkan pada besi penyangga. Untuk mengatur besar kecilnya cairan infus menetes keluar tiap detiknya diatur oleh guliran katup yang terdapat di ujung botol. Kini jadilah aku seperti tahanan dengan infus sebagai borgolnya.
Kadang aku tak habis mengerti, mengapa setiap pasien yang masuk langsung diperlakukan seperti ini. Mungkin untuk kemudahan penanganan pemberian obat dan asupan gizi dan apabila nanti diperlukan diet atau dugaanku yang paling sederhana dan menjaga agar pasien tidak kabur. Pihak rumah sakit tentunya punya pendapat yang lebih afdhol mengenai hal ini.
“Mengapa tadi aku tidak jadi scan otaknya?” tanyaku menyelidik saat dibawa perawat dengan kursi roda menuju ke bangsal.
Sambil mendorong kursi roda, perawat dengan ramah menjelaskan, bahwa tadi aku dengan kondisi tak sadarkan diri dalam waktu yang relatif lama, diduga koma dan terkena strock. Oleh karenanya usai siuman, aku diminta menggerakkan tangan dan kaki berulang-ulang. Bicarakupun tidak pelo, sehingga hasilnya negatif, artinya pada diriku tidak ada gangguan sistem persyarafan dan tidak terjadi pendarahan pada otak sehingga tidak perlu ada tindakan scan otak.

Serpihan Pembelajaran :
Menjelang Kepergiannya, Beliau,Masih sempat ngasih nasehat ke Aku, yang pada akhir nasehatnya, Aku beranikan bertanya kepada Beliau( baru aku sadar sekarang pertanyaan itu sangat rapuh ), kak, Aku nanti terus Gimana?
Jawab beliau (dengan gaya bahasanya yang khas tentu saja ) Kamu nggak akan gimana-gimana, sabarkan hati dan Ingat Allah (15 Maret 2007) ,ternyata benar kata belaiu ,sampai sekarang aku nggak gimana-gimana, masih bisa tersenyum, beraktifitas, menjalani hidup ( berusaha baik dan moga bisa bermanfaat untuk orang Lain)
Kupanjatkan selalu Doa untukmu Kak ,
Ya Allah Tempatkan Beliau  diSurgaMU

(Silahkan Kunjungi Situsnya di http://menikremen.blogspot.com/)

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: